sejarah SMP NU BANTARAN

SMP Nahdlatul Ulama Bantaran pada awalnya bernama SLTP NU, yang mana berdiri pada 17 Juli tahun 1996 yang pada awal berdiri dipelopori oleh bapak KH. Abdul Ghoni Baidlowi.
kepala sekolah pertama yaitu Drs Saeri sampai tahun 2000
N taun 2000-2005 di jabat oleh Zainul Arifin Ss.
Kepala sekolah periode III yaitu tahun 2005-sekarang adalah Syamsul Arifin S.Pd

Sabtu, 06 Agustus 2011

Hadapi Unas, SMP NU Karantina Siswa

Cetak
Sejak Desember 2009

BANTARAN - Ujian nasional (Unas) untuk siswa SMP bakal digelar Senin (29/3). Untuk menghadapinya, beragam cara ditempuh jauh-jauh hari sebelumnya. Termasuk SMP NU Bantaran. Sejak Desember 2009, sekolah ini mengarantina siswanya untuk menghadapi Unas.

Sejak saat itu, 15 siswa harus bermalam di sekolah setiap hari. Sementara 11 siswi belum disarankan bermalam. Namun, mereka wajib mengikuti bimbingan.

"Saat bimbingan malam hari, mereka (siswi) biasanya diantar-jemput oleh wali mereka,"ujar Kepala SMP NU Bantaran Syamsul Arifin, 41, pada Radar Bromo.

Saat Unas semakin dekat, para siswi disarankan bermalam. Mereka pun mulai bermalam sejak Selasa (16/3). "Program karantina ini atas permintaan murid untuk menyiapkan diri menghadapi Unas," kata Syamsul.

Selama masa karantina, mereka didriil dengan mendalami mata pelajaran yang masuk Unas. Yakni Bahasa Indonesia, IPA, Matematika dan Bahasa Inggris.

Bimbingan sendiri dijadualkan dalam dua kali pertemuan. Pertemuan pertama dilakukan setelah salat Magrib sampai pukul 21.00 WIB. Sedangkan yang kedua dimulai pukul 14.00 WIB sampai 16.30 WIB.

Selain bimbingan belajar, pelajar juga dilatih lebih rajin beribadah. Setelah salat Isya, mereka diwajibkan salat hajat berjamaah di musala. Kemarin (25/3), mereka tadarus bersama dan menghatamkan Alquran. "Kami ingin berusaha secara optimal dalam menghadapi unas. Baik lahir atau batin," kata Syamsul.

Karantina itu sendiri dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas alakadarnya. Setiap hari, 26 pelajar kelas tiga bermalam di sekolah yang terletak di Desa Bantaran, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo itu.

Pelajar laki-laki bermalam di musala, di samping sekolah. Sementara pelajar perempuan bermalam di kantor sekolah.

Saat malam tiba, kantor sekolah disulap menjadi penginapan. Meja, bangku dan lemari dirapatkan ke dinding. Kemudian, sebuah karpet digelar di lantai. Di sanalah siswi menginap setiap malam. Lalu saat jam sekolah pada pagi hari, semua barang di kantor kembali ditata dalam posisi semula.

Cara ini terbukti membuat siswa lebih siap. Seperti yang dirasakan Angga Purnomo, 15, salah satu siswa. "Dengan program ini, saya menjadi agak tenang menghadapi unas," katanya. Bahkan selama tiga bulan menjalani karantina, ia merasa hidup bersaudara dengan 26 teman-temannya.

SMP NU Bantaran sendiri melakukan usaha ektra itu setiap tahun. Berkat usaha itu, pada Unas tahun lalu sekolah ini menduduki peringkat ketiga perolehan nilai tertinggi. Bahkan saat try out rakhir yang digelar Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) awal maret lalu, sekolah ini menduduki peringkat kedua perolehan nilai tertinggi untuk sekolah swasta SMP sederajat. (rb)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar